Sleman, Yogyakarta — Tiga manuskrip mushaf Al-Qur’an kuno asal Semarang dan Magelang, menjalani proses konservasi di Laboratorium Nusantara Corner ISQI Sunan Pandanaran pada tanggal 8–9 Mei 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah penyelamatan atas naskah-naskah yang telah mengalami penurunan kondisi fisik, mulai dari kertas yang rapuh, lembaran yang sobek, bagian yang terlepas dari jilid, hingga ancaman kerusakan lanjutan akibat usia dan faktor lingkungan. Di tengah rapuhnya material naskah, konservasi menjadi mendesak bukan hanya untuk menjaga bentuk fisiknya, tetapi juga untuk mempertahankan kandungan teks suci yang masih tersisa.
Atas pendampingan dosen filologi Ahmad Wahyu Sudrajat, M.Hum., Proses konservasi dilaksanakan dengan ketat oleh tim Nusantara Corner Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran, sebuah unit yang berfokus pada pelestarian naskah sebagai warisan intelektual dan spiritual Nusantara. Pada pelaksanaannya, proses konservasi ini melibatkan mahasiswa Prodi Ilmu Tasawuf (IT) semester 6 serta mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) semester 4, 6, dan 8. Secara teknis, proses konservasi dilakukan melalui tahapan teknis yang ketat. Tahap pertama adalah pembersihan mekanis, yaitu pengangkatan debu, residu jamur, dan partikel organik yang menempel pada serat kertas menggunakan kuas yang halus untuk menghindari abrasi. Langkah berikutnya adalah pengolesan minyak wangi murni pada tiap lembar untuk memulihkan fleksibilitas kertas sekaligus memberikan perlindungan biologis dari potensi serangan serangga.
Setelah stabilisasi awal, tim melakukan identifikasi dan pendataan kodikologis. Tahap ini mencakup penilaian tingkat kerusakan, analisis struktur jilid, pengamatan sifat tinta, serta pencatatan ciri-ciri fisik manuskrip sebagai dasar pemetaan kebutuhan restorasi lanjutan. Seluruh temuan material kemudian diarsipkan sebagai bagian dari dokumentasi ilmiah. Proses konservasi diakhiri dengan digitalisasi yang menghasilkan salinan manuskrip dalam bentuk digital. Langkah ini memastikan bahwa isi teks dapat diakses oleh para peneliti tanpa menambah risiko kerusakan pada naskah asli. Digitalisasi juga menjadi strategi alih media yang penting untuk memperluas akses akademik di bidang filologi, kajian Qur’ani, dan sejarah penyalinan naskah Islam di Nusantara.
Tiga manuskrip yang ditangani, masing-masing memiliki karakter material dan kondisi yang berbeda. Manuskrip anonim dari Gunungpati tercatat dengan kode SM-ANO-001 dan berjudul Manuskrip Al-Qur’an Gunung Pati Semarang. Naskah ini ditulis di atas kertas Eropa dengan watermark Propatria dan Concordia Resparvae Crescunt, serta countermark EDG&ZN, GH&Z, VG., dan H. Pada bagian Sampul manuskrip ini terbuat dari kulit pohon, berjumlah 603 halaman, berukuran 32,5 x 20 cm dengan ketebalan 5 cm, beraksara dan berbahasa Arab. Isi naskah memuat Al-Qur’an dengan kondisi tidak utuh; bagian yang masih terbaca dimulai dari Surat Al-Baqarah ayat 50 dan berakhir pada Surat An-Nās, meskipun beberapa bagian awal dan akhir (termasuk juz yang hilang) telah mengalami kerusakan berat. Sejumlah lembar juga sudah terlepas dari jilid, dan sampul asli telah hilang lalu diganti dengan sampul kardus.
Sementara itu, manuskrip Kyai Harun dari Muntilan, Magelang, tercatat dengan kode MU-KHA-001. Naskah ini merupakan Mushaf Al-Qur’an yang ditulis pada kertas Eropa dengan watermark Pro Patria, memiliki 608 halaman, ukuran 24,5 x 16,5 cm, dan tebal 4 cm. Sampulnya kini menggunakan kulit sintetis. Berbeda dengan dua manuskrip lainnya, mushaf ini masih memuat 30 juz Al-Qur’an secara lengkap, meskipun kondisi fisiknya mengalami kerusakan cukup parah. Pada bagian tertentu, naskah tampak telah dipotong akibat proses penyamakan pada masa berikutnya. Menariknya, manuskrip ini juga memuat unsur estetika yang penting, yakni iluminasi pada bagian awal juz 1, awal Surah Al-Kahfi, serta pada Surah Al-Falaq dan An-Nās. Unsur dekoratif tersebut memperlihatkan bahwa mushaf ini tidak hanya bernilai tekstual, tetapi juga memiliki nilai artistik dan kodikologis yang tinggi.
Adapun manuskrip anonim dari Muntilan, Magelang, berkode MU-ANO-001, merupakan Mushaf Al-Qur’an yang ditulis pada kertas Eropa dengan watermark berupa lonceng bermahkota. Naskah ini tidak memiliki sampul asli, berjumlah 521 halaman, berukuran 27 x 17,4 cm, dan setebal 4,3 cm. naskah ini ditemukan pertama kali dengan kondisi yang tidak lengkap. Kondisi naskah juga menunjukkan urutan penulisan yang tidak sistematis; teks dimulai dari halaman 16 pada juz 3, sementara bagian awal juz 28 telah robek. Halaman terakhir yang masih tertulis adalah Surat Al-Qamar pada juz 27. Kerusakan ini menunjukkan bahwa mushaf tersebut telah lama berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan intervensi konservatif segera.
Di balik kerja teknis tersebut, konservasi tiga mushaf ini memiliki makna yang jauh lebih besar, yakni menyelamatkan jejak literasi Islam Nusantara sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Manuskrip Al-Qur’an bukan hanya benda tua, melainkan saksi sejarah atas tradisi baca-tulis, transmisi ilmu keislaman, serta kepekaan estetika masyarakat pada masa lalu. Setiap lembar yang berhasil diselamatkan adalah bagian dari memori kolektif yang menghubungkan generasi sekarang dengan khazanah peradaban terdahulu. Kehilangannya akan berarti hilangnya satu lapis penting dalam sejarah literasi Islam di Nusantara.
Dengan keterlibatan mahasiswa lintas Prodi dan pendampingan akademisi berpengalaman, proses konservasi di Laboratorium Nusantara Corner ISQI Sunan Pandanaran ini mempertegas komitmen bahwa merawat manuskrip bukan sekedar memperbaiki kertas rapuh, akan tetapi memastikan kelangsungan peradaban ilmiah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

