Kategori: Berita

  • Ahli Filologi Sekaligus Dosen IAT ISQI Sunan Pandanaran Terlibat Identifikasi Lima Naskah Kuno di Karanganyar

    Ahli Filologi Sekaligus Dosen IAT ISQI Sunan Pandanaran Terlibat Identifikasi Lima Naskah Kuno di Karanganyar

    Karanganyar, 11 Oktober 2026 — Ahmad Wahyu Sudrajad, M.Hum., dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran Yogyakarta, terlibat dalam identifikasi dan digitalisasi lima naskah kuno yang tersimpan di rumah warga di Bejen, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan tim Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Karanganyar beserta Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.Hum., dan tim ahli filologi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

    Lima naskah tersebut menyimpan beragam khazanah literasi Jawa, mulai dari karya sastra dan teks spiritual hingga catatan tradisi lokal. Koleksi yang diidentifikasi meliputi Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Menak, Kidung Rumekso ing Wengi, Rajah Kalacakra, Rajah Pancasona, doa-doa, primbon, informasi biografis penulis serta dokumen administrasi Gedhong Kiwa-Tengah yang berkaitan dengan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dari era 1930-an. Keberagaman isi tersebut menjadikan koleksi ini berpotensi sebagai sumber kajian sejarah, sastra, keagamaan, dan kebudayaan masyarakat Jawa.

    Dalam proses identifikasi, Ahmad Wahyu Sudrajad dan Asep Yudha Wirajaya bersama tim melakukan penelusuran terhadap karakter tulisan, isi teks, dan konteks kesejarahan naskah. Digitalisasi juga dilakukan sebagai upaya mendokumentasikan informasi yang terkandung dalam koleksi agar dapat mendukung pelestarian dan penelitian lebih lanjut.

    Keterlibatan Ahmad Wahyu Sudrajad memperlihatkan kontribusi akademisi Prodi IAT ISQI Sunan Pandanaran dalam pengembangan kajian filologi dan pelestarian manuskrip Nusantara. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah ini juga menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi serta mendokumentasikan warisan tertulis yang masih tersimpan di tengah masyarakat.

    Hasil identifikasi dan digitalisasi selanjutnya disiapkan untuk mendukung proses pendataan dan pengajuan koleksi kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga keberlanjutan dokumentasi naskah kuno tanpa mengubah hak kepemilikan fisik koleksi dari pemiliknya.

  • Prodi IAT ISQI Sunan Pandanaran Hadirkan SIMAQ, Inovasi Digital untuk Monitoring Hafalan Santri

    Prodi IAT ISQI Sunan Pandanaran Hadirkan SIMAQ, Inovasi Digital untuk Monitoring Hafalan Santri

    Sleman, 7 Oktober 2026 — Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran Yogyakarta, memperkenalkan inovasi digital melalui aplikasi SIMAQ (Sistem Informasi Monitoring Hafalan Al-Qur’an) untuk mendukung pemantauan hafalan Al-Qur’an santri Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran (MASPA) Yogyakarta. Aplikasi yang dikembangkan oleh Ahmad Nur Kholis, M.Ag., dosen Prodi IAT, tersebut didemonstrasikan di hadapan jajaran guru tahfiz MASPA pada Rabu (7/10/2026).

    Demonstrasi ini menjadi langkah awal pengenalan SIMAQ sebagai sarana pendukung pengelolaan program tahfiz. Melalui aplikasi tersebut, pemantauan pencapaian hafalan dan target santri diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah.

    Pengembangan SIMAQ juga diarahkan untuk mendukung proses monitoring dan evaluasi antara pihak madrasah dan orang tua. Dengan pemantauan yang lebih terkoordinasi, perkembangan hafalan santri diharapkan dapat menjadi perhatian bersama, baik dalam lingkungan pendidikan maupun keluarga.

    Pengembangan aplikasi ini berangkat dari harapan agar pencapaian hafalan dan target santri dapat dipantau serta dikontrol secara lebih terarah. Selain itu, aplikasi tersebut diharapkan dapat mendukung proses monitoring dan evaluasi yang melibatkan pihak madrasah dan orang tua, sehingga perkembangan hafalan santri dapat menjadi perhatian bersama.

    Kehadiran SIMAQ menunjukkan upaya Prodi IAT ISQI Sunan Pandanaran dalam mengembangkan inovasi yang menghubungkan keilmuan Al-Qur’an dan pemanfaatan teknologi digital. Inisiatif ini memperluas kontribusi program studi tidak hanya dalam ranah akademik, tetapi juga melalui pengembangan sarana pendukung pembelajaran dan pembinaan hafalan Al-Qur’an.

    Untuk saat ini aplikasi SIMAQ telah memasuki tahap penggunaan dan mulai diterapkan di beberapa tempat di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Penerapan ini menjadi langkah konkret dalam pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pemantauan perkembangan hafalan dan pencapaian target tahfiz santri. Ke depannya, SIMAQ diharapkan dapat memperkuat proses monitoring dan evaluasi serta membangun koordinasi yang lebih baik antara pihak madrasah dan orang tua dalam mendampingi perkembangan hafalan santri.

  • Mahasiswa KKN ISQI Sunan Pandanaran Gelar Sosialisasi Anti-Bullying di PP Al-Hassan Tuyuhan

    Mahasiswa KKN ISQI Sunan Pandanaran Gelar Sosialisasi Anti-Bullying di PP Al-Hassan Tuyuhan

    Rembang, 23 September 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran menggelar sosialisasi anti-bullying di Pondok Pesantren (PP) Al-Hassan Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang. Setidaknya sebanyak 60 santri dari tingkat MI hingga SMP ikut memeriahkan kegiatan sosialisasi ini. Kegiatan tersebut menjadi salah satu program KKN yang melibatkan mahasiswa dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Pendidikan Bahasa Arab (PBA).

    Sosialisasi ini dilaksanakan sebagai upaya pencegahan bullying di lingkungan pondok pesantren mengingat akan tingginya potensi bullying di lingkungan tersebut. Selain itu sosialisasi ini juga dirancang untuk memberikan pemahaman kepada para santri mengenai perundungan serta langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi atau menyaksikan tindakan bullying di lingkungan pesantren.

    Kegiatan tersebut disusun dalam tiga tahap. Tahap pertama berupa pemberian pemahaman umum mengenai bullying seperti bentuk-bentuk perundungan, dampak perundungan terhadap korban, pelaku, dan saksi, serta dampaknya terhadap lingkungan sosial.

    Tahap kedua dilanjutkan dengan studi kasus. Pada tahap ini para peserta diajak memahami berbagai situasi yang dapat dikategorikan sebagai bullying dengan mengangkat kasus-kasus bullying yang marak terjadi di lingkungan pesantren serta melihat persoalan tersebut dari sudut pandang korban, pelaku, dan orang-orang di sekitar kejadian.

    Setelah studi kasus, kegiatan memasuki tahap ketiga berupa refleksi diri. Pada tahap ini, peserta diarahkan untuk melihat kembali perilaku dan pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan teman sebaya, termasuk kemungkinan pernah menjadi korban, pelaku, maupun orang yang menyaksikan tindakan perundungan.

    Salah satu pesan yang ditekankan dalam sosialisasi tersebut adalah pentingnya korban untuk tidak memendam pengalaman perundungan seorang diri. Peserta diarahkan untuk menceritakan kejadian yang dialami kepada orang dewasa yang dipercaya, seperti pengasuh, guru, ustadz, atau pihak lain yang dapat memberikan pendampingan.

    Dalam materi juga disampaikan bahwa korban perlu memiliki keberanian untuk melindungi dirinya. Perlawanan yang dimaksud diarahkan pada upaya mempertahankan diri dan mencari pertolongan, bukan membalas tindakan perundungan dengan kekerasan.

    Melalui sosialisasi tersebut, mahasiswa KKN ISQI Sunan Pandanaran mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang lebih aman melalui keberanian untuk berbicara, saling menghargai, serta tidak membiarkan tindakan perundungan berlangsung tanpa penanganan.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pengabdian mahasiswa KKN ISQI Sunan Pandanaran yang dilaksanakan melalui kolaborasi lintas program studi, yakni IAT, PGMI, dan PBA, di lingkungan PP Al-Hassan Tuyuhan.

  • Dari Lembaran Rapuh ke Arsip Digital, Mahasiswa Ushuluddin Selamatkan Dua Manuskrip Kuno

    Dari Lembaran Rapuh ke Arsip Digital, Mahasiswa Ushuluddin Selamatkan Dua Manuskrip Kuno

    Sleman, 27 Juni 2026 — Mahasiswa Fakultas Ushuluddin kembali melakukan konservasi terhadap manuskrip kuno yang berasal dari Gunungpring di kampus ISQI Sunan Pandanaran Yogyakarta pada Jumat-Sabtu (26-27 Juni 2026). Kegiatan konservasi dilakukan sebagai langkah awal dalam upaya pelestarian naskah kuno yang rentan akan kerusakan. Dalam kegiatan ini terdapat 2 manuskrip yang telah dikonservasi dan didigitalisasi.

    Seperti yang diketahui sebelumnya, terdapat beberapa manuskrip kuno yang telah ditemukan oleh tim Nusantara Corner di daerah Gunungpring, Muntilan, Magelang yang meliputi manuskrip mushaf Al-Qur’an, tafsir dan kitab-kitab lain yang memiliki kondisi fisik yang berbeda beda. Dan kali ini tim Nusantara Corner menemukan 2 manuskrip dengan penulis yang sama, yaitu Kiai Sholeh.

    Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah penyelamatan naskah atas naskah-naskah yang rapuh, lembaran yang sobek, bagian yang terlepas dari jilid hingga ancaman kerusakan lanjutan akibat usia dan faktor lingkungan. Selain menjaga bentuk fisiknya, kami berharap dengan konservasi ini dapat mempertahankan kandungan teks suci yang masih tersisa.

    Pada pelaksanaanya, proses konservasi ini melibatkan 9 mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan tafsir, 6 mahasiswa Prodi Ilmu Tasawuf dan 1 mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan pendampingan penuh oleh Bapak Ahmad Wahyu Sudrajat, M.Hum.

     Tahap awal konservasi ini adalah membersihkan manuskrip secara mekanis, yaitu menghilangkan debu, sisa jamur, dan kotoran organik yang menempel pada kertas dengan menggunakan kuas halus. Setelah itu, setiap lembar diberi minyak wangi murni untuk membantu menjaga kertas serta melindunginya dari kemungkinan serangan serangga.

    Setelah setelah proses pembersihan dan peminyakan selesai, tim kemudian melakukan identifikasi dan pendataan kodikologis terhadap manuskrip yang dikonservasi. Pada tahap ini, tim menilai tingkat kerusakan, memeriksa bentuk jilid, mengamati jenis tinta, serta mencatat ciri-ciri fisik manuskrip sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya. Semua hasil pengamatan itu kemudian didokumentasikan secara ilmiah.

    Proses konservasi ditutup dengan digitalisasi manuskrip, yaitu mengubah naskah dari bentuk fisik ke dalam bentuk digital dengan metode scan. Cara ini membuat isi manuskrip tetap bisa dibaca dan dipelajari oleh peneliti tanpa harus sering menyentuh naskah aslinya, sehingga risiko kerusakan bisa dikurangi. Digitalisasi juga penting untuk memperluas akses kajian di bidang filologi, studi Al-Qur’an, dan sejarah penyalinan naskah Islam di Nusantara.

    Manuskrip yang pertama adalah Tafsir Jalalain yang ditulis oleh Kiai Sholeh. Tafsir ini mengandung tafsir dari surat Al-Fatihah sampai dengan Surat Al-Kahfi. Manuskrip ini memiliki sampul yang berasal dari kulit kayu dan ditulis dengan kertas Eropa. Manuskrip tafsir jalalain ini memiliki kondisi cukup utuh dan terjaga, namun demikian pada halaman awal mansukrip terdapat beberapa kertas yang hilang. Hal in dapat terlihat dari kondisi halamn depan yang masih menyisakan sedikit sisa kertas dengan potongan yang cukup rapi.

    Sementara itu, manuskrip yang kedua adalah manuskrip kuno yang bernama Kitab At-Tahdid Fi Bayani At-Tauhid. Manuskrip ini memiliki kondisi kerusakan yang cukup parah. Beberapa halaman pada manuskrip telah hilang. Beberapa lembaran di bagian awal dan akhir juga mengalami kerusakan yang cukup berat namun sebagian besar teks dalam manuskrip tersebut masih dapat terbaca.

    Keterlibatan mahasiswa lintas prodi bersama para akademisi dalam kegiatan konservasi di kampus ISQI Sunan Pandanaran ini menunjukkan bahwa merawat manuskrip bukan hanya soal memperbaiki kertas yang rapuh. Tetapi juga menjadi bentuk komitmen untuk menjaga warisan ilmu agar tetap hidup dan dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

  • Mahasiswa Ilmu Tasawuf (IT) Dan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Selamatkan Tiga Mushaf Al-Qur’an Kuno dari Magelang dan Semarang

    Mahasiswa Ilmu Tasawuf (IT) Dan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Selamatkan Tiga Mushaf Al-Qur’an Kuno dari Magelang dan Semarang

    Sleman, 9 Mei 2026 — Tiga manuskrip mushaf Al-Qur’an kuno asal Semarang dan Magelang, menjalani proses konservasi di Laboratorium Nusantara Corner ISQI Sunan Pandanaran pada tanggal 8–9 Mei 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah penyelamatan atas naskah-naskah yang telah mengalami penurunan kondisi fisik, mulai dari kertas yang rapuh, lembaran yang sobek, bagian yang terlepas dari jilid, hingga ancaman kerusakan lanjutan akibat usia dan faktor lingkungan. Di tengah rapuhnya material naskah, konservasi menjadi mendesak bukan hanya untuk menjaga bentuk fisiknya, tetapi juga untuk mempertahankan kandungan teks suci yang masih tersisa.

    Atas pendampingan dosen filologi Ahmad Wahyu Sudrajat, M.Hum., Proses konservasi dilaksanakan dengan ketat oleh tim Nusantara Corner Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran, sebuah unit yang berfokus pada pelestarian naskah sebagai warisan intelektual dan spiritual Nusantara. Pada pelaksanaannya, proses konservasi ini melibatkan mahasiswa Prodi Ilmu Tasawuf (IT) semester 6 serta mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) semester 4, 6, dan 8. Secara teknis, proses konservasi dilakukan melalui tahapan teknis yang ketat. Tahap pertama adalah pembersihan mekanis, yaitu pengangkatan debu, residu jamur, dan partikel organik yang menempel pada serat kertas menggunakan kuas yang halus untuk menghindari abrasi. Langkah berikutnya adalah pengolesan minyak wangi murni pada tiap lembar untuk memulihkan fleksibilitas kertas sekaligus memberikan perlindungan biologis dari potensi serangan serangga.

    Setelah stabilisasi awal, tim melakukan identifikasi dan pendataan kodikologis. Tahap ini mencakup penilaian tingkat kerusakan, analisis struktur jilid, pengamatan sifat tinta, serta pencatatan ciri-ciri fisik manuskrip sebagai dasar pemetaan kebutuhan restorasi lanjutan. Seluruh temuan material kemudian diarsipkan sebagai bagian dari dokumentasi ilmiah. Proses konservasi diakhiri dengan digitalisasi yang menghasilkan salinan manuskrip dalam bentuk digital. Langkah ini memastikan bahwa isi teks dapat diakses oleh para peneliti tanpa menambah risiko kerusakan pada naskah asli. Digitalisasi juga menjadi strategi alih media yang penting untuk memperluas akses akademik di bidang filologi, kajian Qur’ani, dan sejarah penyalinan naskah Islam di Nusantara.

    Tiga manuskrip yang ditangani, masing-masing memiliki karakter material dan kondisi yang berbeda. Manuskrip anonim dari Gunungpati tercatat dengan kode SM-ANO-001 dan berjudul Manuskrip Al-Qur’an Gunung Pati Semarang. Naskah ini ditulis di atas kertas Eropa dengan watermark Propatria dan Concordia Resparvae Crescunt, serta countermark EDG&ZN, GH&Z, VG., dan H. Pada bagian Sampul manuskrip ini terbuat dari kulit pohon, berjumlah 603 halaman, berukuran 32,5 x 20 cm dengan ketebalan 5 cm, beraksara dan berbahasa Arab. Isi naskah memuat Al-Qur’an dengan kondisi tidak utuh; bagian yang masih terbaca dimulai dari Surat Al-Baqarah ayat 50 dan berakhir pada Surat An-Nās, meskipun beberapa bagian awal dan akhir (termasuk juz yang hilang) telah mengalami kerusakan berat. Sejumlah lembar juga sudah terlepas dari jilid, dan sampul asli telah hilang lalu diganti dengan sampul kardus.

    Sementara itu, manuskrip Kyai Harun dari Muntilan, Magelang, tercatat dengan kode MU-KHA-001. Naskah ini merupakan Mushaf Al-Qur’an yang ditulis pada kertas Eropa dengan watermark Pro Patria, memiliki 608 halaman, ukuran 24,5 x 16,5 cm, dan tebal 4 cm. Sampulnya kini menggunakan kulit sintetis. Berbeda dengan dua manuskrip lainnya, mushaf ini masih memuat 30 juz Al-Qur’an secara lengkap, meskipun kondisi fisiknya mengalami kerusakan cukup parah. Pada bagian tertentu, naskah tampak telah dipotong akibat proses penyamakan pada masa berikutnya. Menariknya, manuskrip ini juga memuat unsur estetika yang penting, yakni iluminasi pada bagian awal juz 1, awal Surah Al-Kahfi, serta pada Surah Al-Falaq dan An-Nās. Unsur dekoratif tersebut memperlihatkan bahwa mushaf ini tidak hanya bernilai tekstual, tetapi juga memiliki nilai artistik dan kodikologis yang tinggi.

    Adapun manuskrip anonim dari Muntilan, Magelang, berkode MU-ANO-001, merupakan Mushaf Al-Qur’an yang ditulis pada kertas Eropa dengan watermark berupa lonceng bermahkota. Naskah ini tidak memiliki sampul asli, berjumlah 521 halaman, berukuran 27 x 17,4 cm, dan setebal 4,3 cm. naskah ini ditemukan pertama kali dengan kondisi yang tidak lengkap. Kondisi naskah juga menunjukkan urutan penulisan yang tidak sistematis; teks dimulai dari halaman 16 pada juz 3, sementara bagian awal juz 28 telah robek. Halaman terakhir yang masih tertulis adalah Surat Al-Qamar pada juz 27. Kerusakan ini menunjukkan bahwa mushaf tersebut telah lama berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan intervensi konservatif segera.

    Di balik kerja teknis tersebut, konservasi tiga mushaf ini memiliki makna yang jauh lebih besar, yakni menyelamatkan jejak literasi Islam Nusantara sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Manuskrip Al-Qur’an bukan hanya benda tua, melainkan saksi sejarah atas tradisi baca-tulis, transmisi ilmu keislaman, serta kepekaan estetika masyarakat pada masa lalu. Setiap lembar yang berhasil diselamatkan adalah bagian dari memori kolektif yang menghubungkan generasi sekarang dengan khazanah peradaban terdahulu. Kehilangannya akan berarti hilangnya satu lapis penting dalam sejarah literasi Islam di Nusantara.

    Dengan keterlibatan mahasiswa lintas Prodi dan pendampingan akademisi berpengalaman, proses konservasi di Laboratorium Nusantara Corner ISQI Sunan Pandanaran ini mempertegas komitmen bahwa merawat manuskrip bukan sekedar memperbaiki kertas rapuh, akan tetapi memastikan kelangsungan peradaban ilmiah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. 

  • Mahasiswa IAT ISQI Sunan Pandanaran 2025 Gencarkan Digitalisasi Manuskrip Kuno, Selamatkan Warisan Intelektual Nusantara dari Ancaman Kerusakan

    Mahasiswa IAT ISQI Sunan Pandanaran 2025 Gencarkan Digitalisasi Manuskrip Kuno, Selamatkan Warisan Intelektual Nusantara dari Ancaman Kerusakan

    Sleman, 18 Oktober 2025 — Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran melaksanakan program konservasi, digitalisasi, dan inventarisasi manuskrip kuno sebagai upaya penyelamatan warisan intelektual Nusantara. Kegiatan ini dilakukan sepanjang tahun 2025 di berbagai lokasi penyimpanan naskah tradisional, dengan fokus pada pendataan fisik, dokumentasi digital, serta analisis isi manuskrip. Program ini melibatkan mahasiswa, dosen pembimbing, serta pemilik naskah, dengan tujuan menjaga keberlanjutan nilai historis dan keilmuan yang terkandung dalam manuskrip kuno yang rentan mengalami kerusakan.

    Program ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi manuskrip kuno yang sebagian besar belum terdokumentasi secara sistematis dan berada dalam kondisi yang semakin rentan akibat faktor usia, lingkungan, serta kurangnya penanganan konservasi yang memadai. Manuskrip-manuskrip tersebut, yang umumnya ditulis di atas kertas Eropa, dluwang, maupun bahan tradisional lainnya, menyimpan pengetahuan penting mengenai sejarah, keagamaan, hingga kebudayaan lokal.

    Salah satu manuskrip yang berhasil diinventarisasi dalam kegiatan ini adalah naskah berkode MI-SW01 berjudul Serat Anbiyo, yang disalin oleh Simbah Stro Wijoyo. Naskah ini ditulis menggunakan aksara Arab Pegon dengan bahasa Jawa, terdiri dari 621 halaman, dan memiliki ukuran fisik 31 x 20 x 6,5 cm. Isi naskah mengisahkan tentang 25 nabi, menjadikannya sebagai salah satu sumber penting dalam kajian keislaman berbasis tradisi lokal. Berdasarkan hasil observasi, kondisi naskah tergolong baik, meskipun terdapat beberapa bagian yang mengalami kerusakan ringan .

    Proses digitalisasi dilakukan dengan standar dokumentasi yang ketat, termasuk pengambilan gambar resolusi tinggi pada bagian sampul, halaman awal, dan halaman akhir naskah. Selain itu, mahasiswa juga melakukan pencatatan metadata secara rinci, mencakup kode naskah, judul, pengarang, media tulis, jumlah halaman, hingga kondisi fisik naskah. Tahapan ini menjadi krusial dalam membangun basis data manuskrip yang dapat diakses untuk kepentingan penelitian di masa depan.

    “Digitalisasi bukan sekadar memindahkan bentuk fisik ke digital, tetapi juga upaya menyelamatkan makna dan konteks yang terkandung dalam naskah,” ujar seorang dosen pembimbing kegiatan dalam kutipan imajiner. Ia menekankan bahwa tanpa langkah konkret, banyak manuskrip berpotensi hilang sebelum sempat dikaji secara akademik.

    Selain digitalisasi, kegiatan ini juga mencakup konservasi sederhana, seperti pembersihan naskah dari debu, penyimpanan dalam kondisi suhu yang stabil, serta edukasi kepada pemilik naskah mengenai cara perawatan yang benar. Mahasiswa turut berperan sebagai fasilitator yang menjembatani antara pengetahuan akademik dan praktik pelestarian di masyarakat.

    Secara statistik, dalam satu siklus kegiatan, tim mahasiswa mampu mendokumentasikan puluhan naskah dengan berbagai variasi tema dan kondisi. Hal ini menunjukkan bahwa potensi manuskrip di masyarakat masih sangat besar, namun belum sepenuhnya terjangkau oleh lembaga formal seperti perpustakaan nasional atau institusi penelitian.

    Kegiatan ini memberikan dampak signifikan, baik dalam ranah akademik maupun sosial. Dari sisi akademik, digitalisasi manuskrip membuka peluang penelitian baru, khususnya dalam bidang filologi, tafsir, sejarah Islam Nusantara, dan kajian budaya. Manuskrip seperti Serat Anbiyo tidak hanya menjadi objek kajian teks, tetapi juga jendela untuk memahami bagaimana ajaran Islam diadaptasi dalam konteks lokal Jawa.

    Sementara itu, dari sisi sosial, program ini meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya. Keterlibatan langsung pemilik naskah dalam proses konservasi menciptakan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama terhadap pelestarian manuskrip.

    Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait keterbatasan sumber daya, teknologi, serta akses terhadap lokasi manuskrip yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu, diperlukan dukungan lebih luas dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas budaya untuk memperluas cakupan program serupa.

    Program konservasi, digitalisasi, dan inventarisasi manuskrip kuno yang digagas mahasiswa IAT ISQI Sunan Pandanaran pada tahun 2025 menjadi langkah konkret dalam menyelamatkan jejak intelektual Nusantara. Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, upaya ini menjadi pengingat bahwa masa lalu bukan sekadar sejarah, melainkan fondasi pengetahuan yang terus relevan. Ke depan, keberlanjutan program ini diharapkan mampu membangun ekosistem pelestarian manuskrip yang lebih sistematis, inklusif, dan berdaya guna bagi generasi mendatang.

  • Mahasiswa IAT ISQI Sunan Pandanaran Yogyakarta Laksanakan Konservasi, Digitalisasi, dan Inventarisasi Manuskrip Keislaman

    Mahasiswa IAT ISQI Sunan Pandanaran Yogyakarta Laksanakan Konservasi, Digitalisasi, dan Inventarisasi Manuskrip Keislaman

    Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran Yogyakarta melaksanakan kegiatan konservasi, digitalisasi, dan inventarisasi manuskrip pada tanggal 1–2 September 2025 sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan intelektual Islam berbasis manuskrip. Kegiatan ini dilaksanakan di bawah bimbingan bapak Ahmad Wahyu Sudrajad, M.Hum., yang selama ini aktif mendorong penguatan kompetensi mahasiswa dalam bidang kajian manuskrip dan filologi Al-Qur’an.

    Kegiatan konservasi dan digitalisasi manuskrip merupakan salah satu langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam yang berkembang di Nusantara. Manuskrip sebagai sumber primer memiliki nilai penting tidak hanya sebagai dokumen sejarah, tetapi juga sebagai representasi dinamika transmisi ilmu pengetahuan keislaman dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, kegiatan inventarisasi yang dilakukan mahasiswa menjadi bagian dari proses ilmiah yang mendukung pelestarian sekaligus pemanfaatan manuskrip sebagai sumber rujukan akademik yang autentik dan berkelanjutan.

    Dalam kegiatan tersebut, tim mahasiswa melakukan pendataan terhadap dua manuskrip yang memiliki karakteristik penting baik dari sisi material, bahasa, maupun kandungan keilmuan. Manuskrip pertama adalah Mushaf Al-Qur’an dengan kode KMA 01 yang disalin oleh Muhammad Adnan menggunakan media kertas daluwang, yaitu salah satu bahan tulis tradisional yang umum digunakan dalam penyalinan naskah keislaman di Nusantara. Manuskrip ini terdiri atas 336 halaman dengan ukuran 26 × 18,5 cm dan ketebalan 5,5 cm, ditulis menggunakan aksara Arab dan berbahasa Arab.

    Berdasarkan hasil identifikasi awal, manuskrip Mushaf Al-Qur’an tersebut memuat teks Al-Qur’an mulai dari juz 2 hingga juz 30. Kondisi fisik manuskrip secara umum tergolong cukup baik dan terjaga, meskipun terdapat bagian awal yang hilang serta beberapa surat pendek pada bagian akhir yang tidak lagi ditemukan. Meski demikian, keberadaan manuskrip ini tetap memiliki nilai penting sebagai bukti tradisi penyalinan Al-Qur’an secara manual yang berkembang dalam lingkungan masyarakat Muslim lokal pada masa lalu.

    Manuskrip kedua yang berhasil didokumentasikan adalah Kitab Tafsir dengan kode SHT 01 yang disalin oleh Syeikh Hasan Tafsir, juga menggunakan media kertas daluwang. Manuskrip ini berjumlah 361 halaman dengan ukuran 32,5 × 25,5 cm dan ketebalan 5,5 cm. Dari sisi kebahasaan dan aksara, manuskrip ini menggunakan aksara Arab dan Arab Pegon dengan bahasa Arab dan Jawa, yang menunjukkan adanya proses transmisi keilmuan tafsir yang beradaptasi dengan konteks lokal masyarakat Nusantara.

    Secara kandungan, manuskrip Kitab Tafsir tersebut memuat teks Al-Qur’an beserta penafsirannya mulai dari Surat Al-Kahfi hingga Surat An-Nas, yang diawali dengan bagian muqaddimah sebagai pengantar penafsiran. Kondisi manuskrip saat ini tercatat sebagian mengalami kerusakan serta terdapat beberapa halaman yang hilang, sehingga kegiatan digitalisasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan akses terhadap isi teks yang masih tersisa. Proses dokumentasi digital yang dilakukan mahasiswa menjadi bagian dari strategi pelestarian berbasis teknologi yang memungkinkan manuskrip tetap dapat diakses untuk kepentingan penelitian di masa mendatang.

    Selain melakukan inventarisasi data fisik manuskrip, mahasiswa juga melakukan proses pengambilan dokumentasi visual sebagai bagian dari kebutuhan verifikasi dan penguatan data konservasi. Dokumentasi ini meliputi pencatatan identitas naskah, ukuran fisik, media tulis, aksara, bahasa, serta kondisi naskah secara umum. Tahapan ini menjadi langkah awal yang penting dalam proses pelestarian manuskrip sebelum dilakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam dalam bidang filologi maupun studi tafsir berbasis manuskrip.

    Melalui kegiatan konservasi, digitalisasi, dan inventarisasi manuskrip ini, mahasiswa IAT dan IT ISQI Sunan Pandanaran Yogyakarta diharapkan semakin memiliki kesadaran akademik terhadap pentingnya pelestarian manuskrip sebagai warisan intelektual Islam yang bernilai tinggi secara historis, filologis, dan keilmuan. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan teori yang diperoleh di ruang kelas dengan praktik langsung di lapangan.

    Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga memperkuat kontribusi mahasiswa dalam mendukung upaya pelestarian manuskrip keislaman Nusantara sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Dengan adanya kegiatan semacam ini, diharapkan manuskrip-manuskrip klasik tidak hanya tersimpan sebagai artefak sejarah, tetapi juga tetap hidup sebagai sumber inspirasi dan rujukan ilmiah bagi pengembangan studi Al-Qur’an dan keislaman di Indonesia pada masa kini dan masa mendatang

  • Sosialisasi VMTS Bersama Stakeholder dan Ekspert

    Sebagai upaya memperkuat arah pengembangan akademik, program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAI Sunan Pandanaran menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran (VMTS) bersama jajaran stakeholder dan ekspert pada hari Senin, 3 Agustus 2020 yang bertempat di Ruang RK 02. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pihak eksternal yang memiliki hubungan strategis dan keterlibatan dalam lembaga, mulai dari ketua asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dari bidang manajemen perguruan tinggi; bidang kepesantrenan; bidang tahfiz Al-Qur’an; bidang tafsir Nusantara; hingga alumni. Kehadiran mereka sangat penting untuk memberikan perspektif yang objektif sekaligus masukan yang konstruktif mengenai arah pengembangan program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir ke depannya.

    Dalam sambutannya, Dr. Sukamta, M.A.  menegaskan bahwa visi dan misi bukanlah hanya menjadi dokumen formal semata, melainkan juga harus terinternalisasikan dalam setiap langkah dan starategi prodi. “Melalui forum ini, kami ingin memastikan bahwa Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAI Sunan Pandanaran selaras dengan perkembangan zaman, tuntutan masyarakat, serta kebutuhan dunia kerja dan penelitian di bidang tafsir,” ungkapnya.

    Forum diskusi berlangsung secara interaktif, di mana para stakeholder dan ekspert memberikan pandangan mereka terkait relevansi visi dan misi terhadap tantangan masa kini dan masa depan. Hasil diskusi ini diharapkan dapat memperkuat kejelasan arah, konsistensi tujuan, serta pencapaian sasaran strategis program studi dalam jangka panjang. Dengan adanya sosialisasi ini, prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAI Sunan Pandanaran berkomitmen menjadikan VMTS sebagai landasan utama dalam mengembangkan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian pada masyarakat, dan tata kelola yang berkelanjutan.

  • Mahasiswa STAI Sunan Pandanaran Ikuti Kejurkot Pencak Silat Dewasa Antar Perguruan Se Yogyakarta – 1

    Mahasiswa STAI Sunan Pandanaran Ikuti Kejurkot Pencak Silat Dewasa Antar Perguruan Se Yogyakarta – 1

    Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Yogyakarta, menyelenggarakan Kejurkot Pencak Silat Dewasa Antar Perguruan Se-Yogyakarta tahun 2023 yang pesertanya diikuti oleh salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) yang bernama Oong Setiawan. Event ini berlangsung selama 2 hari yaitu pada tanggal 8-9 Juli, di GOR SMA N 11 Yogyakarta. Pembukaan acara Kejurkot ini dihadiri oleh ketua IPSI Yogyakarta, ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dari kota Yogyakarta, dan sesepuh-sesepuh setiap perguruan pencak silat yang ikut berkontribusi dalam perlombaan tersebut.  

    Oong Setiawan sebagai mahasiswa STAISPA mewakili Pagar Nusa Cepedi kota Yogyakarta, telah meraih juara 3 kelas E Putra antar perguruan se-Yogyakarta dengan membawa pulang trofi dan piagam penghargaan. Perlombaan ini diikuti oleh 13 perguruan pencak silat yang ada di Yogyakarta.

    Tujuan perlombaan ini adalah sebagai seleksi atlet untuk membentuk tim cabor pencak silat menuju Pekan Olahraga Daerah (PORDA) XVII DIY tahun 2025 mendatang. Dengan diadakannya event ini, diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berkontribusi aktif mengikuti berbagai perlombaan baik antar kampus maupun tingkat daerah. Keikutsertaan mahasiswa dalam perlombaan diharapkan tidak hanya menjadi ajang untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi platform yang memungkinkan mereka untuk membangun kolaborasi yang bermanfaat dalam dunia akademik.

    Penulis: Elisa May Lestari

  • Mahasiswa IAT & IT ISQI Sunan Pandanaran Lakukan Konservasi Manuskrip Tafsir Al-Qur’an Rembang

    Mahasiswa IAT & IT ISQI Sunan Pandanaran Lakukan Konservasi Manuskrip Tafsir Al-Qur’an Rembang

    Yogyakarta — Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dan Ilmu Tasawuf (IT) ISQI Sunan Pandanaran melaksanakan kegiatan konservasi manuskrip tafsir Al-Qur’an asal Rembang pada 4 Juli 2025. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus tersebut dilaksanakan sebagai bentuk upaya pelestarian warisan intelektual Islam Nusantara sekaligus sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa dalam mengenal secara langsung praktik konservasi naskah klasik. Kegiatan ini didampingi oleh dosen IAT, Bapak Ahmad Wahyu Sudrajat, M.Hum., bersama mahasiswa IAT dan IT yang terlibat aktif dalam proses konservasi manuskrip.

    Manuskrip tafsir Al-Qur’an yang dikonservasi merupakan salah satu peninggalan penting tradisi keilmuan Islam di Rembang yang memiliki nilai historis, religius, dan akademik tinggi. Keberadaan manuskrip tersebut menjadi bukti bahwa tradisi penafsiran Al-Qur’an di Nusantara berkembang secara dinamis melalui jaringan ulama, pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan lokal sejak masa lampau. Oleh karena itu, kegiatan konservasi ini menjadi langkah nyata dalam menjaga kesinambungan warisan keilmuan Islam agar tetap dapat dipelajari oleh generasi masa kini dan mendatang.

    Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada tahapan awal konservasi manuskrip, mulai dari identifikasi kondisi fisik naskah, pengenalan struktur bahan manuskrip, hingga teknik dasar penanganan yang aman. Mahasiswa juga mempraktikkan penggunaan sarung tangan khusus saat memegang naskah, teknik membuka lembar manuskrip secara hati-hati, serta memahami pentingnya menjaga stabilitas suhu dan kelembapan ruang penyimpanan. Langkah-langkah ini sangat penting untuk meminimalkan risiko kerusakan pada manuskrip yang telah berusia lama.

    Selain praktik konservasi secara langsung, kegiatan ini juga dilengkapi dengan proses dokumentasi sebagai bagian dari inventarisasi ilmiah manuskrip. Dokumentasi dilakukan untuk mendukung keberlanjutan penelitian di bidang filologi, sejarah intelektual Islam, dan studi tafsir Nusantara. Dengan adanya dokumentasi yang sistematis, manuskrip tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga memiliki rekam data akademik yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber penelitian lanjutan oleh mahasiswa maupun peneliti dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki perhatian terhadap kajian manuskrip Islam.

    Pendamping kegiatan, Bapak Ahmad Wahyu Sudrajat, M.Hum., menyampaikan bahwa konservasi manuskrip merupakan bagian penting dari penguatan kompetensi akademik mahasiswa IAT. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan lapangan seperti ini, mahasiswa tidak hanya memahami manuskrip sebagai objek kajian teoritis, tetapi juga sebagai sumber primer yang menyimpan informasi penting tentang perkembangan tradisi penafsiran Al-Qur’an di Indonesia.

    Lebih dari sekadar kegiatan teknis pelestarian naskah, konservasi manuskrip ini juga menjadi sarana menumbuhkan kesadaran akademik mahasiswa terhadap pentingnya menjaga khazanah intelektual Islam Nusantara. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menunjukkan komitmen generasi muda dalam merawat peninggalan ulama terdahulu sebagai bagian dari identitas keilmuan Islam di Indonesia. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya penelitian-penelitian lanjutan berbasis manuskrip, khususnya dalam bidang tafsir Nusantara yang masih memiliki banyak potensi untuk dikaji secara lebih mendalam dan sistematis oleh kalangan akademisi muda.

    Melalui kegiatan konservasi manuskrip tafsir Al-Qur’an asal Rembang yang dilaksanakan pada 4 Juli 2025 di ISQI Sunan Pandanaran ini, mahasiswa IAT dan IT diharapkan semakin aktif berkontribusi dalam pelestarian manuskrip Nusantara. Upaya tersebut menjadi langkah strategis dalam memastikan bahwa manuskrip tafsir tetap terjaga keberadaannya serta dapat terus dimanfaatkan sebagai sumber rujukan penting bagi pengembangan studi Al-Qur’an, filologi Islam, dan kajian manuskrip Nusantara di masa depan serta memperkuat kesadaran akademik terhadap pentingnya pelestarian warisan intelektual bangsa.