Mahasiswa IAT ISQI Sunan Pandanaran 2025 Gencarkan Digitalisasi Manuskrip Kuno, Selamatkan Warisan Intelektual Nusantara dari Ancaman Kerusakan

(Yogyakarta, 18 Oktober 2025) — Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran melaksanakan program konservasi, digitalisasi, dan inventarisasi manuskrip kuno sebagai upaya penyelamatan warisan intelektual Nusantara. Kegiatan ini dilakukan sepanjang tahun 2025 di berbagai lokasi penyimpanan naskah tradisional, dengan fokus pada pendataan fisik, dokumentasi digital, serta analisis isi manuskrip. Program ini melibatkan mahasiswa, dosen pembimbing, serta pemilik naskah, dengan tujuan menjaga keberlanjutan nilai historis dan keilmuan yang terkandung dalam manuskrip kuno yang rentan mengalami kerusakan.

Program ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi manuskrip kuno yang sebagian besar belum terdokumentasi secara sistematis dan berada dalam kondisi yang semakin rentan akibat faktor usia, lingkungan, serta kurangnya penanganan konservasi yang memadai. Manuskrip-manuskrip tersebut, yang umumnya ditulis di atas kertas Eropa, dluwang, maupun bahan tradisional lainnya, menyimpan pengetahuan penting mengenai sejarah, keagamaan, hingga kebudayaan lokal.

Salah satu manuskrip yang berhasil diinventarisasi dalam kegiatan ini adalah naskah berkode MI-SW01 berjudul Serat Anbiyo, yang disalin oleh Simbah Stro Wijoyo. Naskah ini ditulis menggunakan aksara Arab Pegon dengan bahasa Jawa, terdiri dari 621 halaman, dan memiliki ukuran fisik 31 x 20 x 6,5 cm. Isi naskah mengisahkan tentang 25 nabi, menjadikannya sebagai salah satu sumber penting dalam kajian keislaman berbasis tradisi lokal. Berdasarkan hasil observasi, kondisi naskah tergolong baik, meskipun terdapat beberapa bagian yang mengalami kerusakan ringan .

Proses digitalisasi dilakukan dengan standar dokumentasi yang ketat, termasuk pengambilan gambar resolusi tinggi pada bagian sampul, halaman awal, dan halaman akhir naskah. Selain itu, mahasiswa juga melakukan pencatatan metadata secara rinci, mencakup kode naskah, judul, pengarang, media tulis, jumlah halaman, hingga kondisi fisik naskah. Tahapan ini menjadi krusial dalam membangun basis data manuskrip yang dapat diakses untuk kepentingan penelitian di masa depan.

“Digitalisasi bukan sekadar memindahkan bentuk fisik ke digital, tetapi juga upaya menyelamatkan makna dan konteks yang terkandung dalam naskah,” ujar seorang dosen pembimbing kegiatan dalam kutipan imajiner. Ia menekankan bahwa tanpa langkah konkret, banyak manuskrip berpotensi hilang sebelum sempat dikaji secara akademik.

Selain digitalisasi, kegiatan ini juga mencakup konservasi sederhana, seperti pembersihan naskah dari debu, penyimpanan dalam kondisi suhu yang stabil, serta edukasi kepada pemilik naskah mengenai cara perawatan yang benar. Mahasiswa turut berperan sebagai fasilitator yang menjembatani antara pengetahuan akademik dan praktik pelestarian di masyarakat.

Secara statistik, dalam satu siklus kegiatan, tim mahasiswa mampu mendokumentasikan puluhan naskah dengan berbagai variasi tema dan kondisi. Hal ini menunjukkan bahwa potensi manuskrip di masyarakat masih sangat besar, namun belum sepenuhnya terjangkau oleh lembaga formal seperti perpustakaan nasional atau institusi penelitian.

Kegiatan ini memberikan dampak signifikan, baik dalam ranah akademik maupun sosial. Dari sisi akademik, digitalisasi manuskrip membuka peluang penelitian baru, khususnya dalam bidang filologi, tafsir, sejarah Islam Nusantara, dan kajian budaya. Manuskrip seperti Serat Anbiyo tidak hanya menjadi objek kajian teks, tetapi juga jendela untuk memahami bagaimana ajaran Islam diadaptasi dalam konteks lokal Jawa.

Sementara itu, dari sisi sosial, program ini meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya. Keterlibatan langsung pemilik naskah dalam proses konservasi menciptakan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama terhadap pelestarian manuskrip.

Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait keterbatasan sumber daya, teknologi, serta akses terhadap lokasi manuskrip yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu, diperlukan dukungan lebih luas dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas budaya untuk memperluas cakupan program serupa.

Program konservasi, digitalisasi, dan inventarisasi manuskrip kuno yang digagas mahasiswa IAT ISQI Sunan Pandanaran pada tahun 2025 menjadi langkah konkret dalam menyelamatkan jejak intelektual Nusantara. Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, upaya ini menjadi pengingat bahwa masa lalu bukan sekadar sejarah, melainkan fondasi pengetahuan yang terus relevan. Ke depan, keberlanjutan program ini diharapkan mampu membangun ekosistem pelestarian manuskrip yang lebih sistematis, inklusif, dan berdaya guna bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *