Sleman, 27 Juni 2026 — Mahasiswa Fakultas Ushuluddin kembali melakukan konservasi terhadap manuskrip kuno yang berasal dari Gunungpring di kampus ISQI Sunan Pandanaran Yogyakarta pada Jumat-Sabtu (26-27 Juni 2026). Kegiatan konservasi dilakukan sebagai langkah awal dalam upaya pelestarian naskah kuno yang rentan akan kerusakan. Dalam kegiatan ini terdapat 2 manuskrip yang telah dikonservasi dan didigitalisasi.
Seperti yang diketahui sebelumnya, terdapat beberapa manuskrip kuno yang telah ditemukan oleh tim Nusantara Corner di daerah Gunungpring, Muntilan, Magelang yang meliputi manuskrip mushaf Al-Qur’an, tafsir dan kitab-kitab lain yang memiliki kondisi fisik yang berbeda beda. Dan kali ini tim Nusantara Corner menemukan 2 manuskrip dengan penulis yang sama, yaitu Kiai Sholeh.
Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah penyelamatan naskah atas naskah-naskah yang rapuh, lembaran yang sobek, bagian yang terlepas dari jilid hingga ancaman kerusakan lanjutan akibat usia dan faktor lingkungan. Selain menjaga bentuk fisiknya, kami berharap dengan konservasi ini dapat mempertahankan kandungan teks suci yang masih tersisa.
Pada pelaksanaanya, proses konservasi ini melibatkan 9 mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan tafsir, 6 mahasiswa Prodi Ilmu Tasawuf dan 1 mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan pendampingan penuh oleh Bapak Ahmad Wahyu Sudrajat, M.Hum.
Tahap awal konservasi ini adalah membersihkan manuskrip secara mekanis, yaitu menghilangkan debu, sisa jamur, dan kotoran organik yang menempel pada kertas dengan menggunakan kuas halus. Setelah itu, setiap lembar diberi minyak wangi murni untuk membantu menjaga kertas serta melindunginya dari kemungkinan serangan serangga.
Setelah setelah proses pembersihan dan peminyakan selesai, tim kemudian melakukan identifikasi dan pendataan kodikologis terhadap manuskrip yang dikonservasi. Pada tahap ini, tim menilai tingkat kerusakan, memeriksa bentuk jilid, mengamati jenis tinta, serta mencatat ciri-ciri fisik manuskrip sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya. Semua hasil pengamatan itu kemudian didokumentasikan secara ilmiah.
Proses konservasi ditutup dengan digitalisasi manuskrip, yaitu mengubah naskah dari bentuk fisik ke dalam bentuk digital dengan metode scan. Cara ini membuat isi manuskrip tetap bisa dibaca dan dipelajari oleh peneliti tanpa harus sering menyentuh naskah aslinya, sehingga risiko kerusakan bisa dikurangi. Digitalisasi juga penting untuk memperluas akses kajian di bidang filologi, studi Al-Qur’an, dan sejarah penyalinan naskah Islam di Nusantara.
Manuskrip yang pertama adalah Tafsir Jalalain yang ditulis oleh Kiai Sholeh. Tafsir ini mengandung tafsir dari surat Al-Fatihah sampai dengan Surat Al-Kahfi. Manuskrip ini memiliki sampul yang berasal dari kulit kayu dan ditulis dengan kertas Eropa. Manuskrip tafsir jalalain ini memiliki kondisi cukup utuh dan terjaga, namun demikian pada halaman awal mansukrip terdapat beberapa kertas yang hilang. Hal in dapat terlihat dari kondisi halamn depan yang masih menyisakan sedikit sisa kertas dengan potongan yang cukup rapi.
Sementara itu, manuskrip yang kedua adalah manuskrip kuno yang bernama Kitab At-Tahdid Fi Bayani At-Tauhid. Manuskrip ini memiliki kondisi kerusakan yang cukup parah. Beberapa halaman pada manuskrip telah hilang. Beberapa lembaran di bagian awal dan akhir juga mengalami kerusakan yang cukup berat namun sebagian besar teks dalam manuskrip tersebut masih dapat terbaca.
Keterlibatan mahasiswa lintas prodi bersama para akademisi dalam kegiatan konservasi di kampus ISQI Sunan Pandanaran ini menunjukkan bahwa merawat manuskrip bukan hanya soal memperbaiki kertas yang rapuh. Tetapi juga menjadi bentuk komitmen untuk menjaga warisan ilmu agar tetap hidup dan dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

