Mahasiswa IAT ISQI Sunan Pandanaran Lakukan Konservasi Manuskrip Tafsir Al-Qur’an Karanganyar

Yogyakarta — Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dan Ilmu Tasawuf (IT) ISQI Sunan Pandanaran melaksanakan kegiatan konservasi manuskrip tafsir Al-Qur’an asal Karanganyar pada 4 Juli 2025. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus tersebut dilaksanakan sebagai bentuk upaya pelestarian warisan intelektual Islam Nusantara sekaligus sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa dalam mengenal secara langsung praktik konservasi naskah klasik. Kegiatan ini didampingi oleh dosen IAT, Bapak Ahmad Wahyu Sudrajat, M.Hum., bersama mahasiswa IAT dan IT yang terlibat aktif dalam proses konservasi manuskrip.

Manuskrip tafsir Al-Qur’an yang dikonservasi merupakan salah satu peninggalan penting tradisi keilmuan Islam di Karanganyar yang memiliki nilai historis, religius, dan akademik tinggi. Keberadaan manuskrip tersebut menjadi bukti bahwa tradisi penafsiran Al-Qur’an di Nusantara berkembang secara dinamis melalui jaringan ulama, pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan lokal sejak masa lampau. Oleh karena itu, kegiatan konservasi ini menjadi langkah nyata dalam menjaga kesinambungan warisan keilmuan Islam agar tetap dapat dipelajari oleh generasi masa kini dan mendatang.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada tahapan awal konservasi manuskrip, mulai dari identifikasi kondisi fisik naskah, pengenalan struktur bahan manuskrip, hingga teknik dasar penanganan yang aman. Mahasiswa juga mempraktikkan penggunaan sarung tangan khusus saat memegang naskah, teknik membuka lembar manuskrip secara hati-hati, serta memahami pentingnya menjaga stabilitas suhu dan kelembapan ruang penyimpanan. Langkah-langkah ini sangat penting untuk meminimalkan risiko kerusakan pada manuskrip yang telah berusia lama.

Selain praktik konservasi secara langsung, kegiatan ini juga dilengkapi dengan proses dokumentasi sebagai bagian dari inventarisasi ilmiah manuskrip. Dokumentasi dilakukan untuk mendukung keberlanjutan penelitian di bidang filologi, sejarah intelektual Islam, dan studi tafsir Nusantara. Dengan adanya dokumentasi yang sistematis, manuskrip tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga memiliki rekam data akademik yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber penelitian lanjutan oleh mahasiswa maupun peneliti dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki perhatian terhadap kajian manuskrip Islam.

Pendamping kegiatan, Bapak Ahmad Wahyu Sudrajat, M.Hum., menyampaikan bahwa konservasi manuskrip merupakan bagian penting dari penguatan kompetensi akademik mahasiswa IAT. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan lapangan seperti ini, mahasiswa tidak hanya memahami manuskrip sebagai objek kajian teoritis, tetapi juga sebagai sumber primer yang menyimpan informasi penting tentang perkembangan tradisi penafsiran Al-Qur’an di Indonesia.

Lebih dari sekadar kegiatan teknis pelestarian naskah, konservasi manuskrip ini juga menjadi sarana menumbuhkan kesadaran akademik mahasiswa terhadap pentingnya menjaga khazanah intelektual Islam Nusantara. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menunjukkan komitmen generasi muda dalam merawat peninggalan ulama terdahulu sebagai bagian dari identitas keilmuan Islam di Indonesia. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya penelitian-penelitian lanjutan berbasis manuskrip, khususnya dalam bidang tafsir Nusantara yang masih memiliki banyak potensi untuk dikaji secara lebih mendalam dan sistematis oleh kalangan akademisi muda.

Melalui kegiatan konservasi manuskrip tafsir Al-Qur’an asal Karanganyar yang dilaksanakan pada 4 Juli 2025 di ISQI Sunan Pandanaran ini, mahasiswa IAT dan IT diharapkan semakin aktif berkontribusi dalam pelestarian manuskrip Nusantara. Upaya tersebut menjadi langkah strategis dalam memastikan bahwa manuskrip tafsir tetap terjaga keberadaannya serta dapat terus dimanfaatkan sebagai sumber rujukan penting bagi pengembangan studi Al-Qur’an, filologi Islam, dan kajian manuskrip Nusantara di masa depan serta memperkuat kesadaran akademik terhadap pentingnya pelestarian warisan intelektual bangsa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *