Mahasiswa IAT ISQI Sunan Pandanaran Yogyakarta Laksanakan Konservasi, Digitalisasi, dan Inventarisasi Manuskrip Keislaman

Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran Yogyakarta melaksanakan kegiatan konservasi, digitalisasi, dan inventarisasi manuskrip pada tanggal 1–2 September 2025 sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan intelektual Islam berbasis manuskrip. Kegiatan ini dilaksanakan di bawah bimbingan bapak Ahmad Wahyu Sudrajad, M.Hum., yang selama ini aktif mendorong penguatan kompetensi mahasiswa dalam bidang kajian manuskrip dan filologi Al-Qur’an.

Kegiatan konservasi dan digitalisasi manuskrip merupakan salah satu langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam yang berkembang di Nusantara. Manuskrip sebagai sumber primer memiliki nilai penting tidak hanya sebagai dokumen sejarah, tetapi juga sebagai representasi dinamika transmisi ilmu pengetahuan keislaman dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, kegiatan inventarisasi yang dilakukan mahasiswa menjadi bagian dari proses ilmiah yang mendukung pelestarian sekaligus pemanfaatan manuskrip sebagai sumber rujukan akademik yang autentik dan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, tim mahasiswa melakukan pendataan terhadap dua manuskrip yang memiliki karakteristik penting baik dari sisi material, bahasa, maupun kandungan keilmuan. Manuskrip pertama adalah Mushaf Al-Qur’an dengan kode KMA 01 yang disalin oleh Muhammad Adnan menggunakan media kertas daluwang, yaitu salah satu bahan tulis tradisional yang umum digunakan dalam penyalinan naskah keislaman di Nusantara. Manuskrip ini terdiri atas 336 halaman dengan ukuran 26 × 18,5 cm dan ketebalan 5,5 cm, ditulis menggunakan aksara Arab dan berbahasa Arab.

Berdasarkan hasil identifikasi awal, manuskrip Mushaf Al-Qur’an tersebut memuat teks Al-Qur’an mulai dari juz 2 hingga juz 30. Kondisi fisik manuskrip secara umum tergolong cukup baik dan terjaga, meskipun terdapat bagian awal yang hilang serta beberapa surat pendek pada bagian akhir yang tidak lagi ditemukan. Meski demikian, keberadaan manuskrip ini tetap memiliki nilai penting sebagai bukti tradisi penyalinan Al-Qur’an secara manual yang berkembang dalam lingkungan masyarakat Muslim lokal pada masa lalu.

Manuskrip kedua yang berhasil didokumentasikan adalah Kitab Tafsir dengan kode SHT 01 yang disalin oleh Syeikh Hasan Tafsir, juga menggunakan media kertas daluwang. Manuskrip ini berjumlah 361 halaman dengan ukuran 32,5 × 25,5 cm dan ketebalan 5,5 cm. Dari sisi kebahasaan dan aksara, manuskrip ini menggunakan aksara Arab dan Arab Pegon dengan bahasa Arab dan Jawa, yang menunjukkan adanya proses transmisi keilmuan tafsir yang beradaptasi dengan konteks lokal masyarakat Nusantara.

Secara kandungan, manuskrip Kitab Tafsir tersebut memuat teks Al-Qur’an beserta penafsirannya mulai dari Surat Al-Kahfi hingga Surat An-Nas, yang diawali dengan bagian muqaddimah sebagai pengantar penafsiran. Kondisi manuskrip saat ini tercatat sebagian mengalami kerusakan serta terdapat beberapa halaman yang hilang, sehingga kegiatan digitalisasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan akses terhadap isi teks yang masih tersisa. Proses dokumentasi digital yang dilakukan mahasiswa menjadi bagian dari strategi pelestarian berbasis teknologi yang memungkinkan manuskrip tetap dapat diakses untuk kepentingan penelitian di masa mendatang.

Selain melakukan inventarisasi data fisik manuskrip, mahasiswa juga melakukan proses pengambilan dokumentasi visual sebagai bagian dari kebutuhan verifikasi dan penguatan data konservasi. Dokumentasi ini meliputi pencatatan identitas naskah, ukuran fisik, media tulis, aksara, bahasa, serta kondisi naskah secara umum. Tahapan ini menjadi langkah awal yang penting dalam proses pelestarian manuskrip sebelum dilakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam dalam bidang filologi maupun studi tafsir berbasis manuskrip.

Melalui kegiatan konservasi, digitalisasi, dan inventarisasi manuskrip ini, mahasiswa IAT dan IT ISQI Sunan Pandanaran Yogyakarta diharapkan semakin memiliki kesadaran akademik terhadap pentingnya pelestarian manuskrip sebagai warisan intelektual Islam yang bernilai tinggi secara historis, filologis, dan keilmuan. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan teori yang diperoleh di ruang kelas dengan praktik langsung di lapangan.

Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga memperkuat kontribusi mahasiswa dalam mendukung upaya pelestarian manuskrip keislaman Nusantara sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Dengan adanya kegiatan semacam ini, diharapkan manuskrip-manuskrip klasik tidak hanya tersimpan sebagai artefak sejarah, tetapi juga tetap hidup sebagai sumber inspirasi dan rujukan ilmiah bagi pengembangan studi Al-Qur’an dan keislaman di Indonesia pada masa kini dan masa mendatang

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *